Hallo gaess, hari ini saya mau post mengenai “kesulitan
belajar” nihhhh…
I. IDENTITAS KLIEN
Ø Nama : N O
Ø Umur : 8
tahun
Ø Jenis kelamin :
Perempuan
Ø Pendidikan :
Salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri
II. RINGKASAN HASIL WAWANCARA
Hasil
wawancara saya dengan klien menyatakan bahwa si anak ini menderita Kesulitan
belajar yaitu disleksia. Lebih tepatnya developmental dyslexsia. Klien
ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Namun pada umumnya anak sd kelas 2
itu sudah bisa membaca, tetapi tidak untuk N O. Ketika saya menanyai orang
tuanya N O, ibunya menjelaskan bahwa anaknya memang tidak pandai dan sulit
untuk belajar.
Ternyata
Kedua orang tua N O ini dulunya tamatan SD. Ketika saya mencoba untuk bertanya
masalah N O ibunya ini kelihatan tidak merespon dengan baik. Dia hanya bilang
kalau masih kelas 2 itu tidak masalah belom bisa membaca. Nanti lambat laun
pasti bisa.
Tetapi N O sendiri anaknya suka bermain binatang.
Kemana-mana suka menggendong kucing.
Ketika saya tanya “kamu sudah bisa membaca belum dek?” dia
menjawab “belom mba”
Nahh disitu saya mencoba beberapa kata saya suruh baca
ternyata memang sangat sulit bagi dia kata itu. Dia lumayan bisa jika 4 huruf.
Tapi kalo lebih dia tidak bisa.
Disleksia (bahasa
Inggris: dyslexia) adalah sebuah gangguan dalam
perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga
8 tahun.[1]
Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam
memahami meskipun normal atau diatas rata-rata. Ini termasuk kesulitan dalam
penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/pemahaman verbal.
https://id.wikipedia.org/wiki/Disleksia
Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental
dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena
gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca).
Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan
biasanya bersifat genetik.
Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak.
Disfungsi tersebut berhubungan dengan
perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal
disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan
terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung
antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal,
cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat
mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca,
kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.
