Pengertian Kesulitan Belajar
Definisi kesulitan beajar
menurut para ahli:
1. Kesulitan belajar menurut Warkitri ddk. (1990:8.3), menyatakan
bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik
yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh.
2. Siti Mardiyanti dkk. (1994 :4-5) menganggap kesulitan belajar
sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan
tertentu untuk mencapai hasil belajar.
3. Clement, dalam Weiner (2003) Kesulitan belajar adalah kondisi
dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata,
namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan
dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori,
serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori
motorik.
Jadi, kesulitan belajar
adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Ciri-Ciri
Kesulitan Belajar
a. menunjukkan prestasi yang rendah
b. tidak bisa konsentrasi dalam waktu lama
c. hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
d. lambat dalam melakukan tugas-tugas dan selalu tertinggal dengan
teman-temannya
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
1. Faktor internal
Faktor internal adalah penyebab kesulitan belajar yang
berasal dari individu siswa sendiri. Beberapa hal yang menyebabkan kesulitan
belajar antara lain: gangguan pada kesehatan, kelainan pada pendengaran dan
penglihatan, rendahnya konsentrasi belajar, dan lain sebagainya.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu
penyebab kesulitan belajar yang berasal dari luar diri siswa seperti: kondisi
belajar yang tidak kondusif, beratnya beban belajar, dan lain sebagainya.
Cara Mengatasi Kesulitan
Belajar
Berdasarkan gejala yang
teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya dilakukan guru
antara lain:
1. Tempat duduk siswa
Anak yang mengalami kesulitan
pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian
depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu
pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.
2. Gangguan kesehatan
Anak yang mengalami gangguan
kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan
pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.
3. Program remedial
Siswa yang gagal mencapai
tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan
melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Di antaranya adalah mengulang kembali bahan pelajaran yang belum
dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain
sebagainya.
4. Bantuan media dan alat peraga
Penggunaan alat peraga
pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang
mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu
timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami
siswa.
5. Suasana belajar menyenangkan
Selain itu yang tak kalah
pentingnya adalah menciptakan suasana belajar kondusif. Suasana
belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami
hambatan dalam menerima materi pelajaran.
6. Motivasi orang tua di rumah
Anak yang mengalami kesulitan
belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang
tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak
mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu
memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang
bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup.
JENIS-JENIS
KESULITAN BELAJAR
Jenis-jenis kesulitan
dibagi 2 :
A.
Kesulitan Belajar Akademik
B.
Kesulitan Belajar Pra-akademik
PEMBAHASAN :
A.
Kesulitan Belajar Akademik
1. Kesulitan
Belajar Membaca (Disleksia)
Kesulitan
belajar membaca sering disebut Disleksia, sedangkan kesulitan belajar
membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya
merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk
meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam
kehidupan masyarakat secara bersama.
v PENYEBAB
DISLEKSIA
Proses membaca diatur oleh bagian
khusus dari sistem saraf manusia, yaitu di bagian temporal-parietal-oksipital
(otak bagian samping dan belakang).
Terdapat perbedaan anatomi antara
otak anak disleksia dengan anak normal. Pada pemeriksaan functional magnetic
resonance imaging yang dilakukan saat anak membaca, ternyata aktifitas otak
anak yang mengalami disleksia jauh berbeda daripada anak umumnya.
Terutama terjadi saat pemrosesan
input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna. Inilah
yang menjadi penyebab munculnya disleksia.
2.
Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
Kesulitan belajar menulis disebut
juga disgrafia, sedangkan kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia.
Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau
dekte, dan menulis ekspresif.
Kegunaan kemampuan menulis bagi
seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat,dan mengerjakan sebagian besar
tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya didekteksi
dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam
mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarakn di sekolah.
3. Kesulitan Belajar Menghitung (Diskalkulia)
Kesulitan belajar berhitung disebut
juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia.
Ada tiga elemen belajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen
tersebut adalah konsep, komputasi,dan pemecahan masalah.
Seperti halnya bahasa, berhitung
merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh
karena itu, kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi
dan ditangani dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari
serta mengikuti berbagai mata pelajaran lain disekolah.
B. Kesulitan Belajar Pra-akademik
1. Gangguan
Motorik dan Persepsi
Gangguan perkembangan motorik
disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan
tubuh, dan motorik halus. Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau
persepsi visual, persepsi pendengaran atau aoditoris, persepsi heptik (raba dan
gerak atau tatkil dan kinestik), dan inteligensi sistem persepsual.
Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah
keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam inteligensi auditori-motor. Anak
tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak ada
kelumpuhan anggota tubuh.
2. Kesulitan Belajar Kognitif
Pengertian kognitif mencakup
berbagai aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu.
Kognitif merupakan fungsi mental yang mencakup persepsi, pikiran, simbolisasi,
penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari
kemampuan anak menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal-soal berhitung.
3. Gangguan Perkembangan Bahasa
(Disfasia)
Disfasia adalah ketidakmampuan anak
menggunakan simbol linguistik dalam berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada
anak yang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut
disfasia perkembangan (developmental dysphasia).
Disfasia ada dua jenis, yaitu
disfasia reseptif dan disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami
gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata- kata
yang diucapakan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami
gangguan dalam peroses stimulus yang masuk.
Pada disfasia eksperesif, anak itdak
mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata
secara variabel. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak akan
berdampak kemampuan membaca dan menulis.
4. Kesulitan dalam Penyelesaian
Perilaku Sosial
Ada anak yang perilakunya tidak
dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesama anak, guru, maupun
orang tau. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karna sering mengganggu, tidak
sopan, tidak tahu aturan, atau berbagai perilaku lainnya. Jika kesulitan
penyesuaian perilaku sosial ini tidak secepatnya ditangani maka tidak hanya
menimbulkan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.
Menurut saya pribadi,
bahwa kesulitan belajar itu memang di pengaruhi oleh beberapa faktor yang
saling mempengaruhi antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya.
Kita sebagai calon pendidik
ataupun sebagai calon konselor sebaiknya sudah memahami hal ini sejak sekarang.
Agar suatu saat nanti ketika kita sudah menjadi pendidik dan menjumpai siswa
yang mengalami kesulitan belajar kita dapat mengetahuinya lebih awal dan dapat
di selesaikan secepatnya, agar tidak menganggu proses belajar siswa tersebut
untuk ke depannya.
Hal ini juga sudah bisa
kita lakukan sejak sekarang bukan hanya nanti saat sudah menjadi pendidik saja.
Misalnya saja ada tetangga, keponakan atau bahkan anggota keluarga kita sendiri
yang mengalami kesulitan belajar sebaiknya kita membantu anak tersebut untuk
mengatasi kesulitan belajarnya.
SUMBER :
http://nurirvan19.blogspot.co.id/2015/04/makalah-pesikologi-pendidikan-tentang.html
http://nurirvan19.blogspot.co.id/2015/04/makalah-pesikologi-pendidikan-tentang.html