Minggu, 29 Mei 2016

KESULITAN BELAJAR



Pengertian Kesulitan Belajar
Definisi kesulitan beajar menurut para ahli:
1.      Kesulitan belajar menurut Warkitri ddk. (1990:8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh.
2.      Siti Mardiyanti dkk. (1994 :4-5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar.
3.      Clement, dalam Weiner (2003) Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik.
Jadi, kesulitan belajar adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Ciri-Ciri Kesulitan Belajar
a.       menunjukkan prestasi yang rendah
b.      tidak bisa konsentrasi dalam waktu lama
c.       hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
d.      lambat dalam melakukan tugas-tugas dan selalu tertinggal dengan teman-temannya
 Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

1.     Faktor internal 
Faktor internal adalah penyebab kesulitan belajar yang berasal dari individu siswa sendiri. Beberapa hal yang menyebabkan kesulitan belajar antara lain: gangguan pada kesehatan, kelainan pada pendengaran dan penglihatan, rendahnya konsentrasi belajar, dan lain sebagainya.
2.     Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu penyebab kesulitan belajar yang berasal dari luar diri siswa seperti: kondisi belajar yang tidak kondusif, beratnya beban belajar, dan lain sebagainya.


Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya dilakukan guru antara lain:


1.     Tempat duduk siswa
Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru. 
2.     Gangguan kesehatan
Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya. 
3.     Program remedial
Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya. 
4.     Bantuan media dan alat peraga
Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa. 
5.     Suasana belajar menyenangkan
Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.
6.     Motivasi orang tua di rumah
Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup. 

JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR

Jenis-jenis kesulitan dibagi 2 :
A.    Kesulitan Belajar Akademik
B.     Kesulitan Belajar Pra-akademik

PEMBAHASAN :

A.    Kesulitan Belajar Akademik

1.    Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
Kesulitan belajar membaca sering disebut Disleksia, sedangkan kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama.

v  PENYEBAB DISLEKSIA
Proses membaca diatur oleh bagian khusus dari sistem saraf manusia, yaitu di bagian temporal-parietal-oksipital (otak bagian samping dan belakang).
Terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal. Pada pemeriksaan functional magnetic resonance imaging yang dilakukan saat anak membaca, ternyata aktifitas otak anak yang mengalami disleksia  jauh berbeda daripada anak umumnya.
Terutama terjadi saat pemrosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna. Inilah yang menjadi penyebab munculnya disleksia.

2.    Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
Kesulitan belajar menulis disebut juga disgrafia, sedangkan kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dekte, dan menulis ekspresif.
Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat,dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya didekteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari  berbagai mata pelajaran yang diajarakn di sekolah.




3.    Kesulitan Belajar Menghitung (Diskalkulia)

Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemen belajar berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah  konsep, komputasi,dan pemecahan masalah.
Seperti halnya bahasa, berhitung merupakan bagian dari matematika yang merupakan sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari serta mengikuti berbagai mata pelajaran lain disekolah.



B.     Kesulitan Belajar Pra-akademik


1.    Gangguan Motorik dan Persepsi
Gangguan perkembangan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus. Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau persepsi visual, persepsi pendengaran atau aoditoris, persepsi heptik (raba dan gerak atau tatkil dan kinestik), dan inteligensi sistem persepsual.
Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam inteligensi auditori-motor. Anak tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh.




2.    Kesulitan Belajar Kognitif

Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek struktur intelektual yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Kognitif merupakan fungsi mental yang mencakup persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran, dan pemecahan masalah. Perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak menggunakan bahasa dan menyelesaikan soal-soal berhitung.




3.    Gangguan Perkembangan Bahasa (Disfasia)

Disfasia adalah ketidakmampuan anak menggunakan simbol linguistik dalam berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anak yang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia).

Disfasia ada dua jenis, yaitu disfasia reseptif dan disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata- kata yang diucapakan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami gangguan dalam peroses stimulus yang masuk.

Pada disfasia eksperesif, anak itdak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara variabel. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak akan berdampak kemampuan membaca dan menulis.



4.    Kesulitan dalam Penyelesaian Perilaku Sosial

Ada anak yang perilakunya tidak dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh sesama anak, guru, maupun orang tau. Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karna sering mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan, atau berbagai perilaku lainnya. Jika kesulitan penyesuaian perilaku sosial ini tidak secepatnya ditangani maka tidak hanya menimbulkan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.




Menurut saya pribadi, bahwa kesulitan belajar itu memang di pengaruhi oleh beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya.
Kita sebagai calon pendidik ataupun sebagai calon konselor sebaiknya sudah memahami hal ini sejak sekarang. Agar suatu saat nanti ketika kita sudah menjadi pendidik dan menjumpai siswa yang mengalami kesulitan belajar kita dapat mengetahuinya lebih awal dan dapat di selesaikan secepatnya, agar tidak menganggu proses belajar siswa tersebut untuk ke depannya.
Hal ini juga sudah bisa kita lakukan sejak sekarang bukan hanya nanti saat sudah menjadi pendidik saja. Misalnya saja ada tetangga, keponakan atau bahkan anggota keluarga kita sendiri yang mengalami kesulitan belajar sebaiknya kita membantu anak tersebut untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
SUMBER :
http://nurirvan19.blogspot.co.id/2015/04/makalah-pesikologi-pendidikan-tentang.html
http://nurirvan19.blogspot.co.id/2015/04/makalah-pesikologi-pendidikan-tentang.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar