Jumat, 10 Juni 2016

disleksia pada anak kelas 2 SD



Hallo gaess, hari ini saya mau post mengenai “kesulitan belajar” nihhhh…  


I. IDENTITAS KLIEN
Ø  Nama              : N O
Ø  Umur               : 8 tahun
Ø  Jenis kelamin   : Perempuan
Ø  Pendidikan       : Salah satu sekolah dasar di Kabupaten Wonogiri
II. RINGKASAN HASIL WAWANCARA
            Hasil wawancara saya dengan klien menyatakan bahwa si anak ini menderita Kesulitan belajar yaitu disleksia. Lebih tepatnya developmental dyslexsia. Klien ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Namun pada umumnya anak sd kelas 2 itu sudah bisa membaca, tetapi tidak untuk N O. Ketika saya menanyai orang tuanya N O, ibunya menjelaskan bahwa anaknya memang tidak pandai dan sulit untuk belajar.
            Ternyata Kedua orang tua N O ini dulunya tamatan SD. Ketika saya mencoba untuk bertanya masalah N O ibunya ini kelihatan tidak merespon dengan baik. Dia hanya bilang kalau masih kelas 2 itu tidak masalah belom bisa membaca. Nanti lambat laun pasti bisa.
Tetapi N O sendiri anaknya suka bermain binatang. Kemana-mana suka menggendong kucing.
Ketika saya tanya “kamu sudah bisa membaca belum dek?” dia menjawab “belom mba”
Nahh disitu saya mencoba beberapa kata saya suruh baca ternyata memang sangat sulit bagi dia kata itu. Dia lumayan bisa jika 4 huruf. Tapi kalo lebih dia tidak bisa.

Disleksia (bahasa Inggris: dyslexia) adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun.[1] Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau diatas rata-rata. Ini termasuk kesulitan dalam penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/pemahaman verbal.
https://id.wikipedia.org/wiki/Disleksia


Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca).
Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak.
Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar